TULISAN PA LWB4

 jadwal sidang         sipp         e court         Siwas

Ucapan duka banjir 2021 upload

 TAB 1

Maklumat Pelayanan

Stop Gratifikasi upload

Info Sebaran Covid 2

KURBAN DAN KEBENARAN

Menebar Semangat Menegakkan Kebenaran di Tengah Kegelapan

 (Ditulis oleh: Akmal Adicahya, S.HI., M.H.)

Sembilan belas tahun yang lalu-tepatnya tanggal 26 Juli 2001-Mahkamah Agung Republik Indonesia kehilangan salah satu Hakim Agungnya, Syafiuddin Kartasasmita (Hakim Agung/Ketua Muda Bidang Pidana MA) tewas ditembak dalam perjalannya untuk bekerja. Syafiuddin dikenal sebagai hakim yang kerap mengadili perkara korupsi, khususnya yang berkaitan dengan pemerintahan di masa orde baru. Syafiuddin juga menjadi Ketua Majelis dalam perkara tukar guling tanah antara Bulog dan PT Goro Batara Sakti yang sepat menyeret nama-nama orang penting di Indonesia. Nyatanya, penembakan Syafiuddin diprakarsai oleh terpidana yang divonis bersalah dalam kasus yang Ia adili tersebut. Syafiuddin menjadi simbol bahwa dalam menegakkan kebenaran, harus siap untuk menghadapi pengorbanan.

Bagi umat islam, bulan Juli tahun ini juga menjadi momentum untuk mengingat pengorbanan yang dilakukan para nabi. Hari raya Adha sejatinya menjadi pengingat bagi seluruh muslim bahwa ber-Islam berarti berani berkorban. Diceritakan, demi memenuhi perintah Allah, Nabi Ibrahim harus mengorbankan sang anak kesayangan. Nabi Ismail pun rela menjadikan dirinya sembelihan sesuai perintah yang Ia dan ayahnya terima dari Allah sebagai bentuk ketaatan.

Empat belas abad lalu, ratusan bahkan ribuan umat muslim mengorbankan dirinya demi kebenaran yang mereka yakini. Tercatat sahabat Bilal bin Rabah pernah dijemur dan ditindih dengan batu di tengah terik matahari karena akidah yang Ia yakini. Umat muslim juga tidak akan lupa dengan siksaan yang diterima oleh keluarga Amar bin Yasir ketika mereka memutuskan mempercayai Islam. Para sahabat yang notabene memperjuangkan kebenaran yang mereka yakini, memang dihadapkan dengan resiko siksaan yang luar biasa. Namun, bagi mereka kebenaran jauh lebih berharga untuk diperjuangkan dibandingkan menyerah pada godaan serta siksa yang mengancam.

Mereka Yang Kafir

Pada kisah lain tentang Nabi Ibrahim, diceritakan seorang raja bernama Namrud mengangkat dirinya sendiri sebagai Tuhan. Ia memerintahkan kepada seluruh rakyat untuk menyembahnya. Nabi Ibrahim sebagai utusan Allah datang dan menantang Sang Raja untuk membuktikan ketuhanannya. Alkisah, Namrud yang kesal karena tidak mampu meladeni argumentasi sang nabi, memerintahkan agar Nabi Ibrahim dibakar di hadapan khalayak untuk menunjukan apa yang akan terjadi bagi mereka yang menentang ketuhanan sang raja. Sayang, keinginan Namrud justru berbalik sepenuhnya karena sang nabi masih tetap hidup meski telah dibakar oleh panasnya api.

Perjuangan Rasulullah dalam menyebarkan Islam pun tidak jarang diliputi dengan ancaman dan pengorbanan. Muhammad kerapkali digoda dengan tawaran harta, tahta, bahkan wanita. Ia bersama umatnya pernah diboikot dari hubungan perdagangan, pernikahan, serta komunikasi sosial lainnya. Namun Ia dan umat islam tetap gigih memperjuangkan kebenaran yang mereka yakini. Beratnya godaan serta derita ini bahkan digambarkan dalam salah satu ayat Al-Qur’an “Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat. (Al-Baqoroh: 214).

Hebatnya, perjuangan para nabi selalu dipenuhi dengan nilai-nilai kesantunan. Metode yang digunakan bukan berupa kekerasan dan pemaksaan, melainkan dialog-dialog persuasif guna meyakinkan para pendengar. Meski dihadapkan dengan umat yang keras kepala, penguasa lalim yang aniaya, hingga kaum kafir yang terus melakukan kekerasan dalam upaya mengganggu penyampaian kebenaran, para nabi dan rosul terus berusaha menjaga sopan-santun dan tidak membalas perlakuan mereka. Para nabi dan rosul justru berdo’a agar hidayah merasuk ke dalam pikiran serta relung hati kaum kafir.

Menelaah cerita perjuangan para nabi, dapat kita lihat kaum kafir sangat lekat dengan ciri lalim, cinta pada kekerasan, dan mengerahkan segala daya upaya demi mematikan penyampaian kebenaran. Tepat nampaknya bila para pembunuh Hakim Syafiuddin, serta para pelaku kekerasan lainnya pada hari ini merepresentasikan sifat ke-kafiran yang dahulu dimiliki oleh namrud dan kaum kafir. Sementara sikap Hakim Syafiuddin yang menghukum pelaku kejahatan, merupakan representasi penyampai kebenaran yang dahulu dilakukan oleh nabi dan kerapkali dihadapkan dengan godaan dan ancaman.

Tidak Boleh Sia-Sia

Perjuangan para nabi dan rosul terbukti tidak berakhir tanpa hasil. Populasi umat muslim sebagai salah satu umat terbesar di dunia mengindikasikan keberhasilan tersebut. Ribuan kegiatan baik yang dipraktikan di seluruh ujung dunia dan ditahbiskan sebagai ajaran islam juga sangat mudah untuk ditemukan. Kebenaran bernama ‘Islam’ kini telah menyebar seantero negeri menjadi bukti pengorbanan para nabi tidaklah percuma. Mereka yang menjadi korban dalam memperjuangkan kebenaran boleh hilang fisiknya. Namun, semangatnya harus tetap dihidupkan dan diwarisi oleh generasi selanjutnya.

Bulan Juli tahun ini ditutup dengan sebuah peringatan kematian seorang Hakim yang gugur akibat tugas yang Ia laksanakan. Bukan persoalan namanya yang dikenang, namun perjuangannya wajib terus dilanjutkan. Sama seperti Id Adha yang bukan berhenti pada persoalan menyembelih hewan Qurban. Hari raya ini harus dijadikan momentum bagi umat muslim, khususnya bagi warga peradilan untuk mengingat bahwa berjuang di jalan kebenaran akan selalu butuh pengorbanan. Peradilan sebagai tempat masyarakat mencari keadilan harus berisikan ‘muslim-muslim’ yang siap untuk menegakkan kebenaran. Peradilan harus dijalankan dengan penuh kearifan, kebijaksanaan, serta mengingat bahwa setiap keputusan amat menentukan nasib para pencari keadilan. Pengorbanan adalah hal yang tidak terelakkan. Caci maki kadang juga harus dihadapi. Sumpah serapah oleh mereka yang kecewa, juga tak mungkin dihindari. Bahkan kadang nyawa yang harus dipertaruhkan. Pengadilan bukan tempat mencari kepuasan, melainkan tempat di mana keadilan dan kebenaran ditegakkan. Hakim Syafiuddin harus menjadi motivasi, bukan menjadi kisah yang diceritakan untuk memunculkan ketakutan.

Aplikasi Pendukung

    komdanas simari sikep abs pengaduan lpse direktori jdih 

      emonev bappenas   emonev smart   erekon   simponi   omspan  e sprint

No Korupsi upload

Don't have an account yet? Register Now!

Sign in to your account